Apakah Banjir Nabi Nuh Seluruh Dunia?


Sering muncul kritik dari kalangan ateis yang meragukan kisah Nabi Nuh. Mereka berargumen:


"Al-Qur'an menyebut banjir Nabi Nuh itu global (melanda seluruh dunia). Kalau benar begitu, secara sains banjir itu harusnya memusnahkan semua makhluk hidup di bumi sekaligus. Ini kan nggak masuk akal secara historis dan ilmiah."


Bagaimana kita menanggapi hal ini?


Sebenarnya, tidak ada satu pun ayat eksplisit/sarih/jelas dalam Al-Qur'an yang secara kaku menyatakan bahwa banjir tersebut menenggelamkan seluruh bumi. Banyak ulama besar, seperti Ibnu Athiyyah (w. 542 H), menegaskan bahwa ayat-ayat tentang banjir tersebut konteksnya spesifik (ke kaum tertentu)


"وقولُه تعالى: ( ثُمَّأَغْرَنَا الْأَعَرِيَ (٥٨) ) يقتضي أَنّه أَغْرَقَ قومَ نُوحٍ وأُمَهُ ومُكَذِّبِهِ، وليس في ذلك نصٌّ على أنّ الغَرَقَ عَمَّ جميعَ أهلِ الأرضِ


"Firman Allah Ta'ala: 'Kemudian Kami tenggelamkan golongan yang lain.' (QS. Asy-Syu'ara: 120) konsekuensinya adalah bahwa Allah menenggelamkan kaum Nabi Nuh, umatnya, dan orang-orang yang mendustakannya. AYAT INI SAMA SEKALI TIDAK MENJADI DALIL TEGAS yang menunjukkan bahwa banjir tersebut melanda seluruh penduduk bumi." Al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-'Aziz, (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1422 H), 4:477.


Senada dengan hal itu, Al-Alusi (w. 1270 H) juga dalam kitab tafsirnya, menyatakan:


"Pendapat yang menenteramkan hati adalah bahwa banjir besar tersebut TIDAK BERSIFAT GLOBAL sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian (mayoritas) ulama. Nabi Nuh 'Alaihissalam juga tidak diperintahkan untuk membawa hewan-hewan yang biasa muncul dari pembusukan tanah seperti tikus dan serangga. Beliau hanya diperintahkan untuk membawa hewan-hewan yang sekiranya dibutuhkan saat beliau dan orang-orang bersamanya selamat dari banjir, agar mereka tidak kesulitan atau harus bersusah payah MENDATANGKAN KEMBALI DARI WILAYAH BUMI YANG JAUH yang tidak terjangkau oleh banjir.

Ruh al-Ma'ani (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah), 6/253.


Menjawab Argumen "Banjir Global"


Di sisi lain, ada pihak-pihak yang mencoba memaksakan teori banjir global dengan berdalil ayat-ayat Qur'an


وَّفَجَّرْنَا الْاَرْضَ عُيُوْنًا فَالْتَقَى الْمَاۤءُ عَلٰٓى اَمْرٍ قَدْ قُدِرَۚ

"Dan Kami pancarkan mata air-mata air dari bumi, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan." (QS. Al-Qamar: 12).


Begitu pula ucapan Nabi Nuh 'Alaihissalam dalam doanya:

وَقَالَ نُوْحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْاَرْضِ

"Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi (ardh)."(QS. Nuh: 26).


Lalu apakah setiap kata al-ardh atau bumi berarti mencakup seluruh dunia, sehingga dipahami banjirnya seluruh dunia ?

Ternyata tidak.


Sebab, kata "bumi/tanah" (al-ardh) di dalam Al-Qur'an sering kali digunakan untuk merujuk pada wilayah atau tanah tertentu saja, bukan seluruh planet bumi. Contohnya ada pada:


وَكَذٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوْسُفَ فِى الْاَرْضِۖ

"Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di(al-ardh) bumi." (QS. Yusuf: 21), dan 

وَاِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِى الْاَرْضِۚ

"Dan sesungguhnya Firaun itu berbuat sewenang-wenang di bumi (al-ardh)." (QS. Yunus: 83).

Kata "bumi" (al-ardh) pada kedua ayat di atas “secara konteks” merujuk pada negeri Mesir, bukan seluruh permukaan bumi.


Artinya tidak setiap kata ard selalu dipahami seluruh bumi.


Dan Jika kita meneliti ayat-ayat Al-Qur'an dengam teliti, kita justru akan sampai pada kesimpulan bahwa banjir besar tersebut bersifat regional (lokal), Kenapa ? karena ada dua alasan kuat:


Pertama: 


Allah Maha Adil. Dalam menetapkan azab di dunia, Allah selalu bersikap proporsional. Sebagaimana firman-Nya: "Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul" (QS. Al-Isra: 15).


Peringatan (risalah) adalah syarat mutlak sebelum hukuman dijatuhkan. Jika kita memaksakan narasi bahwa banjir Nuh adalah banjir global yang menghapus seluruh populasi manusia, maka kita dihadapkan pada pertanyaan yang sulit: Apakah Allah menghancurkan manusia di belahan bumi lain (seperti di benua yang jauh) yang bahkan tidak tahu bahwa Nabi Nuh ada dan tidak pernah mendengar peringatan apa pun?


Menghukum mereka yang tidak diberi peringatan jelas tidak selaras dengan sifat keadilan Allah. Oleh karena itu, logika yang paling adil adalah: Azab hanya ditujukan kepada kaum yang telah menolak dakwah Nabi Nuh secara langsung setelah peringatan itu sampai kepada mereka.


2. Nabi Nuh Diutus untuk Kaumnya, Bukan Dunia

Karena Nabi Nuh diutus khusus untuk kaumnya (bukan sebagai rasul universal untuk seluruh planet sebagaimana nabi muhammad), maka area yang terkena azab hanyalah wilayah tempat kaum tersebut tinggal. Allah menjelaskan:


Oleh sebab itu, penyebutan azab ini dikonstruksikan secara kaumnya 


"Dan sesungguhnya Dialah yang telah membinasakan kaum 'Ad terdahulu, dan kaum Tsamud tidak ada seorang pun yang ditinggalkan-Nya, dan KAUM NUH SEBELUM ITU. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling durhaka." (QS. An-Najm: 50-52). 


"Dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu." (QS. Yunus: 73).


Frasa "orang-orang yang diberi peringatan itu" menjadi kunci. Azab tersebut secara spesifik menargetkan mereka yang sudah diperingatkan. Maka, sangat adil jika banjir tersebut hanya melanda wilayah di mana Nabi Nuh berdakwah, karena di wilayah itulah penduduknya telah mendengar peringatan dan memilih untuk mendustakannya.

Jadi, menurut pendapat mayoritas ahli tafsir, tidak ada azab di dunia bagi suatu kaum sampai seorang rasul diutus langsung kepada mereka. 


Bukti Adanya Umat Lain di Masa Nabi Nuh


Prinsip keadilan Allah semakin kuat dengan adanya firman-Nya dalam


“ Dikatakan (melalui wahyu), “Wahai Nuh, turunlah (dari bahteramu) dengan penuh keselamatan dari Kami dan penuh keberkahan atasmu serta umat-umat (mukmin) yang bersamamu. Ada pula umat-umat (kafir) yang Kami beri kesenangan (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab dari Kami yang sangat pedih.” QS. Hud 48


artinya ayat ini sangat sangat jelas kalau ada bangsa yang hidup selain Nuh.


artinya mengkritik al Quran dengan mengatakan kisah Nuh adalah dongeng sebab tiadanya banjir global adalah keliru, karena memang sejak awal al Quran tak pernah mengklaim itu banjir global. 


adapun deskripsi seperti besar perahulah, jangkauan banjirlah, versi Bible memang dilebih-lebihkan itu TIDAK AKURAT secara sejarah. sebagaimana orang orang Kristen bicara luas wilayah Nabi Sulaiman, sensus penduduk Yahudi di Mesir, itu semua dilebih-lebihkan...


baru setelah masalah ini clear bahwa itu banjir lokal, pertanyaan yang benar, benarkah di Mesopotamia pernah terjadi banjir?


itu.

Dan keberadaan banjir di mesopotamia tempat Nabi Nuh itu sifatnya historis sebagaimana keterangan para ahli sejarah dan arkeolog.


Insya Allah kedepannya kita bahas secara serius historisitas kisah para Nabi dan berbagai tuduhan seperti menjiplak epik gilgames, epik suriah dan lain-lain.


oh ya, menariknya sampai hari ini akun akun Kristen semuanyyya,,,,... ilmuan ilmuan mereka dihadapan dunia mempertahankan mati-matian teori banjir besar, seperti bukti adanya pasir laut, serta fosil-fosil ikan-ikan yang ditemukan diseluruh gunung diseluruh dunia.


gimana menurut kalian ?